Minggu, 04 Maret 2012

Kegiatan Pembelajaran Menurut Teori Sibernitik

BAB I
PENDAHULUAN
Teori belajar yang banyak diterapkan oleh para ahli pembelajaran itu meliputi teori behavioristik, teori kognitivistik, teori humanistik, dan teori belajar sibernatik. Pada makalah ini akan dikaji tentang pandangan teori sibernatik terhadap proses belajar dan aplikasinya dalam kegiatan pembelajaran. Pembahasan diarahkan pada hal-hal seperti pengertian belajar menurut teori sibernatik, aplikasi teori belajar sibernetik, implementasi teori sibernitik.
Menurut teori sibernitik, belajar adalah pengolahan informasi. Pengolahan informasi yaitu adanya pandangan tertentu kearah individu. Informasi inilah yang akan menentukan proses yang mana system informasi yang diproses akan dipelajari siswa. Aplikasi teori belajar sibernitik adalah teori belajar pengolahan informasi termasuk dalam lingkup teori kognitif yang mengemukakan bahwa belajar adalah proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung dan merupakan perubahan kemampuan yang terikat pada situasi tertentu. Sedangkan implementasi teori sibernitik dalam kegiatan pembelajaran yaitu dengan adanya pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemprosesan informasi .
Untuk lebih jelasnya lagi akan di jelaskan pada bab selanjutnya.
BAB II
Kegiatan Pembelajaran Menurut Teori Sibernitik
A. Pengertian Belajar Menurut Teori Sibernitik
Teori belajar sibernitik merupakan teori belajar yang paling baru. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan teknik informasi. Menurut teori sibernitik, belajar adalah pengolahan informasi. Seolah-olah teori ini mempunyai kesamaan dengan teori kognitif yaitu mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar. Proses belajar memang penting dalam teori sibernitik, namun yang lebih penting lagi adalah system informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa. Informasi inilah yang akan menentukan proses. Bagaimana proses akan belajar berlangsung, sangat ditentukan oleh sistem informasi yang dipelajari.
Asumsi lain dari teori sibernitik adalah bahwa tidak ada satu proses belajar pun yang ideal untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar sangat di tentukan oleh sistem informasi.[1]
Ada 3 Pendapat tentang teori Sibernitik, yang dikemukakan oleh Gagne dan Briggs, Pask dan Scott, dan Landa yaitu:
Teori sibernatik dipertegas melalui aplikasi teori pengelohan informasi dalam pembelajaran antara lain dirumuskan dalam teori Gagne dan Briggs yang mendeskripsikan adanya kapabilitas belajar, peristiwa pembelajaran, dan pengorganisasian/urutan pembelajaran. Teori sibernitik itu adalah mengenai tentang pengolahan informasi akan tetapi Landa itu membagi system pegolahan informasinya itu melalui 2 macam proses berpikir yaitu algoritmik dan heuristic. Mislanya agar siswa mampu memahami suatu rumus matematika mungkin akan lebih efektif jika presentasi informasi tentang rumus disajikan secara algoritmik.Alasnnya karena suatu rumus matematika mengikuti urutan tahap demi tahap yang sudah teratur dan mengarah kesatu target tertentu. Sedangkan berpikir heuristic dengan harapan pemahaman mereka terhadap konsep itu atau yang dipelejari itu tidak tnuggal ( tidak tetap pada satu pembelajaran akan tetapi bisa berkembang) dan langsung mengarah kebeberapa aspek sekailgus.
Sedangkan menurut Pask dan Scott membagi sistem pengolahan informasi itu (teori sibernitik ) menjadi 2 yaitu cara berpikir serialis dan whulist atau menyeluruh. Cara berpikir serialis adalah menggunakan cara berpikir secara algoirtmik sedangkan cara berpikir whulist atau menyeluruh adalah berpikir yang cenderung melompat kedepan langsung kegambaran lengkap sebuah sistem informasi , ibarat meilhat lukisan bukan detil-detil yang diamati terlebih dahulu akan tetapi seluruh lukisan itu atau langsung kepada lukisan itu sekaligus, baru sesudah itu kebagian-kebagian yang lebih detil.
Jadi dapat disimpulkan bahwa teori sibernitik ini menekankan kepada sistem informasi yang akan dipelajari , sementara itu bagaimana proses belajar berlangsung dalam diri individu sangat ditentukan oleh sistem informasi yang dipelajari. Teori ini memandang manusia sebagai mengolah informasi, pemikir, dan pencipta berdasarkan pandangan tersebut maka diasumsikan bahwa manusia merupakan makhluk yang mampu mengolah, menyimpan, dan mengorganisasikan informasi.
Pengolahan informasi mengandung pengetian adanya pandangan tertentu ke arah studi individu. Pusat perhatian pokok studi adalah cara bagaimana orang mempersepsi, mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima setiap hari dari lingkungan sekeliling[2].
Arus informasi itu diantaranya adalah rangsangan dari lingkungan si pelajar mempengaruhi reseptornya dan memasuki system saraf melalui suatu sensory register. Struktur inilah yang bertanggung jawab atas persepsi awal terhadap objek-objek dan peristiwa-peristiwa sehingga si pelajar melihat, mendengar atau mengindera. Informasi itu di “kodekan”(di jadikan kode) dalam sensory register, yakni informasi itu di rubah bentuknya menjadi bentuk terpola yang merupakan wakil rangasangan aslinya.
Memasuki memori jangka pendek, sekali lagi informasi itu di kodekan. Kali ini kedalam suatu bentuk konseptual. Misalnya gambar mirip X menjadi suatu refresentasi semacam “X”; gambar menjadi konsep “dua” (bukan kata dua). Menetapnya informasi dalam memori jangka pendek bisa relative lama, bisa pula hanya beberapa detik. Pengulangan (rehearsal) mungkin juga terjadi pada bagian lain”jika infornmasi itui perlu di ingat-ingat, sekali lagi ia di transformasikan dan memasuki ingatan jangka panjang” di mana ia di simpan untuk di munculkan kemabali nanti pada saat yang diperlukan. Kebanyakan teori menduga bahwa penyimpanan pada memori jangka panjang itu permanen dan bahwa kegagalan memunculkan kembali di kemudian hari adalah karena kesulitan dalam menemukan informasi itu.
Bila seorang pelajar harus mengingat sesuatu yang telah di pelajari sebelumnya, sesuatau itu harus diangkat kembali dari ingatan jangka panjang dan di bawa keingatan jangka pendek, baru di munculkan kembali. Permunculan kembaili informasi, baik dari ingatan jangka pendek maupun jangka panjang, berjalan memlalui sesuatu pembangkit respon(respon generator) yang berfungsi mengalihkan informasi menjadi tindakan. “pesan” neural dari struktur ini menggerakkan evector (urat-urat) dan menghasilkan suatu ferformansi yang mempengaruhi lingkungan si pelajar. Tindakan inilah yang memungkinkan pengamatan dari luar mengatakan bahwa rangsangan yang diberikan telah memperoleh efek yang diharapkan bahwa informasi telah di proses dan si pelajar telah betul-betul belajar.[3]
Hal-hal yang berkaitan dengan pengolahan informasi supaya informasi (pesan) tersebut dapat diterima oleh si penerima informasi, diantaranya:
1. Pesan, merupakan informasi yang disampaikan berupa isi, makna, pengertian dari materi pengajaran atau bahan pelajaran.
2. Media yang terdiri dari perangkat lunak dan perangkat keras di siapkan untuk menyajikan pesan terpilih, misalnya modul dan slide suara
3. Intruktor, adalah orang yang mengendalikan, menyajikan atau mentransmisikan informasi, pesan, isi, makna, pengertian dari materi instruksional.
4. Metode, adalah teknik-teknik tertentu yang di pergunakan agar penyajian informasi omenjadi efektif.
5. Lingkungan berupa kindisi-kondisi tertentu yang dikendalikan, diatur atau di manipulasi guna menciptakan pengajaran yang kondosif.[4]
Faktor penyebab informasi itu sulit di terima di antarnya adalah karena informasi makin lama makin menjadi kompleks (rumit/susah di pahami),pemahaman menjadi makin sulit, lalu bahasa yakni alat utama bagi komonikasi menjadi penghalang, maksudnya bahasa ini bisa menggunakan berbagai macam bahasa yang membuat seseorang kurang mengerti akan informasi yang disampaikan.[5]
Dalam rancangan pengolah informasi ada dua bidang yang penting secara khusus bagi belajar. Diantaranya ialah penyelidikan mengenai proses orang yang memperoleh dan mengingat informasi, dan penelitian mengenai siasat yang di pakai orang dalam memecahkan masalah.
Asumsi pokok yang mendasari teori –teori pengolah informasi ialah bahwa memori manusia itu terorganiser dan prosesor informasi yang aktif. Dalam kerangka teori, ada dua pandangan pokok tentang representasi pengetahuan dalam memori. Pandangan itu adalah representasi dual-kode yang mencakup citra verbal dan visual.
Penelitian mengenai pengolah informasi meliputi pokok luas tentang tugas dan berbagai peran tentang subjek ketika memperoleh informasi.Untuk maksud menghasilkan penerapan pada belajar dan penyederhanaan pemahaman atas temuan-temuannya. Proses belajar dijelaskan dalam tiga tahap, diantaranya :
1. Perhatian ke stimulus
Pengolahan informasi oleh system memori manusia bermula ketika isyarat fisik ( visual, akustik atau taktil ) diterima pencatat sensori di mata, telinga dan kulit.
2. Pengkodean stimulus
Ada dua cara utama mengkodekan yaitu gladi pelihara atau primer dan gladi elaboratif. Menghafal dengan mengucapkan nomor telefon berulang-ulang merupakan contohgladi pelihara. Dengan kata lain, cara ini ialah pengulangan-pengulangan informasi yamg ingin di ingat-ingat.Sedangkan gladi elaborative ialah mengubah informasi dengan berbagai cara. Gladi pelihara dan gladi elaboratif dapat membantu orang dalam mengingat kembali informasi di waktu kemudian. Gladi elaboratif lebih efektif untuk keperluan mengingat kembali.
3. Penyimpanan dan Retrival Informasi.
Proses pengkodean adalah untuk menyiapkan informasi guna disimpan di dalam memori jangkan panjang untuk mendapatkannya dan mengingatnya kembali, hal tersebut banyak bergantung pada bentuk bagaimana informasi disimpan.
Dalam menurunkan asas pembelajaran dari penelitian pengolahan informasi paling sedikit ada dua kesulitan yang besar. Pertama , belajar itu saja dari banyak proses belajar yang diselidiki. Kedua, mengikuti dominannya psikologi kognitif pada waktu ini. Banyaknya penelitian yang dijalankan pada kegiatan kognitif pelajar mencakup berbagai kegiatan pelajar, bidang kurikulum, model organisasi, dan lain sebagainya.
Ada tiga perkembangan penting bagi pendidikan telah munculnya dari penekanan pada soal pengolahan informasi. Pertama, titik berat yang semakin besar ada siasat pengolahan yang digunakan para siswa pada waktu belajar. Kedua, adanya kesadaran akan perlunya mengajar keterampilan proses kognitif seccara langsung, seperti cara-cara mengorganisasikan pengetahuan dan metode orang sendiri untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan dalam usaha memperoleh pengertian. Ketiga, perkembangan kurikulum, Posner (1978) menjelaskan pengembangan semantic untuk keperluan pengorganisasian kurikulum dan analisa isi. Misalnya, jaringan semantic untuk dua buah topic dibandingkan untuk dilihat konsep-konsepnya yang sama dan cara-cara untuk memadukan keduanya di dalam kurikulum.[6]
B. Tujuan Belajar Menurut Teori Sibernitik
Setelah mempelajari teori belajar menurut tori Sibernitik diharapkan memiliki kemampuan untuk mengkaji hakikat belajar menurut teori sibernitik dan penerapannya dalam kegiatan pembelajaran.[7]
Maksud dari tujuan tersebut yaitu agar siswa itu mampu mengkaji pembelajaran yang telah dipelajari dan yang telah di dapat dari gurunya. Selain itu juga ia bisa menerapkan ilmu yang telah didapatnya dalam kegiatan pembelajarannya dan dalam kehidupannya. Contohnya : Siswa itu mempelajari metematika tentang perkalian , disaat ada PR tentang perkalian dia diharapakan sudah mampu menjawab soal-soal tersebut dengan baik dan benar.
C. Keunggulan dan Kelemahan Teori Sibernitik dalam Kegiatan Pembelajaran
Ø Keunggulan
Ke semua teori belajar dalam aliran-aliran yang menekankan aspek yang berbeda-beda ini sebetulnya memiliki kesamaan karena melihat bahwa belajar adalah suatu proses yang berlangsung pada diri seseorang yang melalui tahapan-tahapan tertentu. Isi dari proses belajar adalah sistem informasi yang diperoleh melalui pengalaman akan suatu kejadian tertentu yang disusun sebagai suatu konsep, teori, atau informasi umum. Hasil dari proses teori belajar ini adalah adanya perubahan, baik yang dilihat sebagai perubahan tingkah laku maupun secara kemampuan pada tanah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Ø Kelemahan
Teori aliran ini dikritik karena tidak secara langsung membahas tentang proses belajar sehingga menyulitkan dalam penerapan. Ulasan teori ini cenderung ke dunia psikologi dan informasi dengan mencoba melihat mekanisme kerja otak. Karena pengetahuan dan pemahaman akan mekanisme ini sangat terbatas maka terbatas pula kemampuan untuk menerapkan teori ini.[8]
D. Teori Belajar Menurut Sibernitik
Implementasi teori sibernitik dalam kegiatan pembelajaran telah dikembangkan oleh beberapa tokoh, diantaranya adalah pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemprosesan informasi yang dikembangkan oleh Gage dan Berliner, Biehler, Snowman, Baine, dan Tennyson. Konsepsi Landa dalam model pendekatannya yang disebut Algoritmik dan Heuristik juga termasuk teori sibernitik. Pask dan Scott yang membagi siswa menjadi tipe menyeluruh atau wholist , dan tipe serial atau serialist juga menganut teori sibernitik.
Masing- masing akan dijelaskan secara singkat sebagai berikut:
1. Teori Pemprosesan Informasi
Dalam upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan, dan dimunculkan kemabali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemprosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986), Baine (1989), dan Tennyson (1986). Teori-teori tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi yaitu:
a. Bahwa antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemprosesan informasi di mana pada amsing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b. Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya.
c. Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut, dikembangkan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi (proses kontrol). Komponen pemrosesan informasi dipilah menajdi berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya “lupa”. Ketiga komponen itu adalah sebagai berikut:
1) Sensory Receptor (SR)
Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertamakali informasi diterima dari luar. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi ntadi mudah terganggu atau berganti.
2) Working Memory (WM)
Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengarui oleh peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa; 1) Ia memiliki kapasitas yang tebatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Asumsi pertama berkaitandenga penataan jumlah informasi, sedangkan informasi yang kedua berkaitan dengan peran proses kontrol. Artinya, agar informasi dapat bertahan dalam WM, maka upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas WM disamping melakukan rehearsal (pengulangan). Sedangkan penyandian pada tahap WM, dalambentuk verbal, visual, ataupun semantic, dipengaruhi oleh peran proses control dan seseorang dapat denga sadar mengendalikannya.
3) Long Term Memory (LTM)
Long Term Memory (LTM) diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak aa=kan pernah terhapus atau hilang. Persoalan” lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali informasi yang diperlukan. Ini berarti , jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan. Tennyson (1989) mengemukakanbahwa proses penyimpanan informasi merupakan proses mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base).
Reigeluth danStein (1983) mengatakan bahwa pengetahuan ditata di dalam struktur kognitif sacara hirarkhis. Ini berarti, pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh individu dapat mempermudah perolehan pengetahuan baru yang lebih terperinci. Implikasinya di dalam pembelajaran, semakin baik penataan pengetahuan sebagai dasar pengetahuan yang dating kemudian, semakin mudah pengetahuan tersebut ditelusuri dan dimunculkan kembali pada saat diperlukan.
Berpijak pada kajian diatas, reigeluth, Bunderson dan Merrill (1977) mengembangkan suatu starategi penataan isi atau materi pelajaran yang berurusan dengan empat biang masalah, yaitu; pemilihan, penataan urutan, rangkuman, dan sintesis. Menurut mereka,
a. Jika isi mata pelajaran ditata dengan menggunakan urutan dari umum ke rinci, maka isi atau materi pelajaran pada tingkat umum akan memjadi kerangka untuk mengkaitkan isi-isi lain yang lebih rinci. Hal ini sesuia dengan struktur representasi informasi di dalam LTM, sehingga akan mempermudah proses penelusuran kembali inforan dimasi.
b. Jika rangkuman diintegrasikan ke dalam strategi penataan isi atau materi pelajaran, maka ia akan berfungsi menunjukkan kepada siswa (si belajar) informasi mana yang perlu diberi perhatian disamping menghemat kapasitas WM.
Proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah dinsimpan dalam ingatan (retrieval). Ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses penelusuran bergerak secara hirarkhis, dari informasi yang paling umum dan inklusif ke informasi yang paling umum dan rinci, sampai informasi yang diinginkan diperoleh.[9]
Skema dasar sistem Informasi bias dilihat dibawah ini:[10]
Keluaran (Output)
Pengolahan (Processing))
Masukan (Input)
(
(input
Penyimpanan (Storing)

2. Teori Belajar Menurut Landa
Salah satu penganut aliran Sibernitik adalah Landa. Ia membedakan ada dua maccam proses berpikir, yaitu proses berpikir algoritmik dan proses berpikir heuristik. Proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir yang sistematis, tahap demi tahap, linear, konvergen, lurus, menuju ke satu target tujua tertentu. Contoh-contoh proses algoritmik misalnya kegiatan menelepon, menjalankan mesin mobil, dan lain-lain. Sedangkan cara berfikir heuristic, yaitu cara erpikir devergen, menuju ke beberapa target tujuan sekaligus. Memahami suatu konsep yang mengandung arti ganda dan penafsiran biasanya menuntut seorang untuk menggunakan cara berfikir heuristik. Contoh proses berpikir heuristik misalnya operasi pemilihan atribut geometri, penemuan cara-cara pemecahan masalah, dan lain-lain.
Proses belajar akan berjalan dan baik jika materi pelajaran yang hendak dipelajari atau masalah yang hendak dipecahkan (dalam istilah teori sibernitik adalah system informasi yang hendak dipelajari) diketahui ciri-cirinya materi pelajaran tertentu akan lebih tepat disajikan dalam urutan yang teratur, linear, sekuensial, sedangkan materi pelajaran lainnya akan lebih tepat bila disajikan dalam bentuk terbuka dan memberi kebebasan kepada siswa untuk berimajinasi dan berpikir. Misalnya, agar siswa mampu memahami suatu rumus matematika mungkin akan lebih efektif jika presentasi informasi tentang rumus tersebut disajikan secara algoritmik. Alasannya, karena suatu rumus matematika biasanya mengikuti urutan tahap demi tahap yang sudah teratur dan mkengarah ke satu target tertentu. Namun untuk memahami makna suatu konsep yang lebih luas dan banyak megandung interpretasi, misalnya konsep keadilan atau demokrasi, akan lebih baik jika proses berpikir siswa dibimbing kearah yang “menyebar” atau berpikir heuristik dengan harapan pemahaman mereka terhadap konsep itu tidak tunggal, menonton, dogmatic atau linear.
3. Teori Belajar Menurut Pask dan Scott
Pask dan Scott juga termasuk penganut teori sibernitik. Menurut mereka ada dua macam cara berpikir, yaitu cara berpikir serealis dan cara berpikir wholist atau menyeluruh. Pendekatan serialis yang dikemukakannya memiliki kesamaan dengan pendekatan algoritmik. Namun apa yang dikatakan sebagai cara berpikir menyeluruh(wholist) tidak sama dengan cara berpikir heuristik. Bedanya, cara erpikir menyeluruh adalah berpikir yang cenderung melompat kedepan, langsung ke gambaran lengkap sebuah system informasi ibarat melihat lukisan, bukan detail-detail yang diamati lebih dahulu, melainkan seluruh lukisan itu sekaligus baru sesudah itu kebagian-bagian yang lebih detail. Sedangkan cara berpikir Heuristik yang dikemukakan oleh Landa adalah cara berpikir devergen mengarah kebeberapa aspek sekaligus. Siswa tipe wholist atau menyeluruh ini biasanya dalam mempelajari sesuatu cenderung dilakukan dalam tahap yang paling umum kemudian bergerak ke yang lebih khususatau detail. Sedangkan siswa tipe serialist dalam mempelajari sesuatu cenderung menggunakan cara berpikur secara algoritmik.
Teori Sibernitik sebagai teori belajar seringkali dikritik karena lebih menekankan pada system informasi yang akan dipelajari, sementara itu bagaimana proses belajar berlangsung dalam diri individu sangat ditentikan oleh system informasi yang dipelajari. Teori ini memandang manusia sebagai mengolah informasi, pemikir, dan pencipta. Berdasarkan pandangan tersebut maka diasumsikan bahwa manusia merupakan makhluk yang mampu mengolah, menyimpan,dan mengorganisasikan informasi.
Asumsi di atas direfleksikan ke dalam suatu model belajar dan pembelajaran. Model tersebut menggambarkan proses mental dalam belajar yang secara terstruktur membentuk suatu system kegiatan mental. Dari model ini dikembangkan prinsip-prinsip belajar seperti:
a. Peruses mental dakam belajar terfokus pda pengetahuan yang bermakna.
b. Proses mental tersebut mampu menyandi informasi secara bermakna.
c. Proses mental bermuara pada pengorganisasian dan pengaktualisasian informasi.
E. Aplikasi Teori Sibernitik dalam Kegiatan Pembelajaran
Teori belajar pengolahan informasi termasuk dalam lingkup teori kognitiif yang mengemukakan bahwa beajar adalah proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung dan merupakan perubahan kemampuan yang terikat pada situasi tertentu. Namun memori kerja manusia mempunyai kapasirtas yang terbatas. Teori Gagne dan Briggs mempreskripsikan adanya 1) kapabilitas belajar, 2) peristiwa pembelajaran, dan 3) pengorganisasian/urutan pembelajaran. Mengenai kapablitas belajar kaitannya dengan unjuk kerja dirumuskan oleh Gagne sebagai berikut:
No
Kapabilitas Belajar
Unjuk Kerja
1
Informasi Verbal
Menyatakan Informasi
2
Keterampilan Intelektual
Menggunakan symbol untuk berinteraksi dengan lingkungan.
- Diskriminasi
Membedakan perangsang yang memiliki dimensi fisik yang berlainan.
- Konsep konkret
Mengidentifikasi contoh-contoh konkret
- Konsep abstrak
Mengklasifikasikan cotoh-contoh dengan mengguankan ungkapan verbal atau definisi
- Kaidah
Menunjukkan aplikasi suatu kaidah.
- Kaidah tingkat lebih tinggi
Mengembangkan kaidah baru utuk memecahkan masalah
3
Strategi Kognitif
Mengembangkan cara-cara baru untuk memecahkan masalah. Menggunakan berbagai cara untuk mengontrol proses beajar dan/atau berpikir.
4
Sikap
Memilih berprilaku dengan cara tertentu.
5
Keterampilan Motorik
Melakukan gerakan tubuh yang luwes, cekatan, serta dengan urutan yang benar.
Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar meupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Proses internal itu ialah bahwa belajar itu tidak dapat diamati secara langsung, akan tetapi terlihat pada situasi tertentu. Misalnya, anak murid belajar matematika tentang bab perkalian pada saat dia belajar pemahamannya akan perkalian tidak dapat diamati secara langsung, akan tetapi apabila nanti dia mengerjakan sendiri PR matematika tersebut maka akan dapat diketahui dia bias atau tidak mengerjakan soal-soal matematika itu.
Tahapan-tahapan ini dapat di mudahkan dengan menggunakan metode pembejlajaran yang megikuti urutan tertentu sebagai peristiwa pembelajaran (the events of instruction), yang mempreskripsikan kondisi belajar internal dan eksterrnal utama untuk kapabilitas apapun. Sembilan tahapan dalam peristiwa pmbelajaran yang diasumsikan sebagai cara-cara ekaternal yang berpotensi pendukung proses-proes interna dalam kegiatan belajar adalah:
1. Menarik perhatian
Sebagai seorang guru untuk menarik perhatian dalam proses pembelajaran dia harus bias menggunakan metode-metode pengajaran agar siswa itu tertarik dan memahami pelajaran tersebut.
Contohnya : Didalam pembelajaran itu menggunakan metode perumpamaan. Contoh dari metode perumpamaan yaitu sebuah pohon yang lengkap di umpamakan dengan sebuah lembaga pendidikan, pohonnya itu sebagai kepala sekolah, daunnya sebagai guru dan stafnya, dahannya sebagai fasilitas sekolah, buahnya sebagai siswa dan akarnya sebagai dinas pendidikan.
2. Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa
Seorang guru haruslah bias menjelaskan tujuan materi pembelajaran yang diajarkan kepada siswa agar siswa itu dapat mengetahui manfaat dari belajar mata pelajaran itu dan dapat mengaplikasikannya baik dalam kehidupan maupaun bidang akademik.
3. Merangsang ingatan kepada prasyarat belajar
Maksudnya guru mengulang kembali pelajaran-pelajaran yang telah lalu sebelum memasuki pelajaran yang baru.
4. Menyajikan bahan perangsang
Maksudnya guru menyajikan benda-benda / kata-kata yang berkaitan dengan pelajaran sebelumnya agar anak mudah mengingat pelajaran tersebut.
5. Memberikan bimbingan belajar
Seorang guru harus bias memberikan bimbingan dalam belajar kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar ataupun tidak agar tercapai hasil belajar yang optimal.
6. Mendorong unjuk kerja
Sebagai seorang guru harus bisa memberikan dorongan agar siswa itu bisa mengerjakan tugas sekolahnya/ kuliahnya dengan baik. Misalnya, membuat makalah yang memerlukan 5 referensi buku.
7. Memberikan balikan informative
Maksudnya apabila siswa / mahasiswa bertanya tentang pembelajaran ataupun yang diluar dari pelajaran dan guru harus memberikan informasi sesuai dengan apa yang ditanyakannya.
8. Menilai unjuk kerja
Maksudnya guru harus menilai hasil dari usahanya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya didalam sekolah. Misalnya, hasil dari pembuatan makalahnya diberikan penilaian oleh guru ataupun dosen.
9. Meningkatkan retensi dan alih belajar
Maksudnya meningkatkan kinerja dalam proses pembelajaran agar siswa itu lebih mudah belajar secara optimal dan alih belajar itu ialah mencari solusi belajar. Misalnya : belajar bahasa arab apabila tidak paham akan artinya bisa menggunakan kamus.
Dalam mengorganisasikan pembelajaran perlu dipertimbangkan ada tidaknya prasyarat belajar untuk suatau kapabilitas, apakah siswa telah memiliki prasyarat belajar yang diperlukan. Pengorganisasian pembelajaran untuk kapabilitas belajar tertentu di jelaskan sebagai berikut:
1. Pengorganisasian pembelajaran ranah kerterampilan intelektual.
Menurut Gagne, prasyarat belajar utama dan keterkaitan satu dengan lainnya digambarkan dalam hirarkhi belajar. Reigeluth membedakan struktur belajar sebagai keteramilan yang lebih tinggi letaknya di atas, sedangkan keterampilan tingkat yang lebih rendah ada di bawahnya.
2. Pengorganisasian pembeajaran ranah informasi verbal
Kemampuan kini menghendaki siswa untuk dapat mengintegrasikan fakta-fakta ke dalam kerangka yang bermakna baginya.
3. Pengorganisasian pembelajaran ranah strategi kognitif
Kemampuan ini banyak memerlukan prasyarat keterampilan intelektual, maka perlu memasukkan keterampilan-keterampilan intelektual dan informasi cara-cara memecahkan masalah.
4. Pengorganisasian pembelajaran ranah sikap
Kemampuan sikap memerlukan prasyarat sejumlah informasi tentang pilihan-pilihan tindakan yang tepat untuk situasi tertentu, juga strategi kognitif yang dapat membantu memecahkan konflik-konflik nilai pada tahap pilihan.
5. Pengorganisasian pembeajaran ranah keterampilan motorik
Untuk menguasai keterampilan motorik perlu dimulai dengan mengajarkan kaidah mengenai urutan yang harus diikuti dalam melakukan unjuk kerja keterampilan yang dipelajari. Diperlukan latihan-latihan mulai dari mengajarkan bagian-bagian keterampilan secara terpisah-pisah kemudian melatihkannya kedalam kesatuan keterampilan.
Keunggulan strategi pembelajaran yang berpijak pada teori pemrosesan informasi adalah:
1. Cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
Maksudnya cara berpikir siswa itu mempunyai dasar agar dia itu pada posisi yang menonjol artinya dia tidak asal bicara tapi mempunyai asal pemikiran yang logis.
2. Penyajian pengetahuan memenihi aspek ekonomis
Maksudnya didalam penyajian pengetahuan / dalam pemberian pembelajaran harus mempunyai fasilitas-fasilitas yang menunjang untuk memenuhi proses pembelajaran.
3. Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap
Fasilitas yang diperlukan dalam proses pembelajaran harus dapat disajikan / ditampilkan secara lengkap dalam proses pembelajaran tersebut. Misalnya, belajar biologi tentang anatomi tubuh maka disiapkanlah tengkorak palsu agar siswa dapat mengetahui struktur-struktur tubuh yang dipelajari dalam pelajaran tersebut.
4. Adanya keterarahan seluruh kegiatan belajar kepada tujuan yang ingin dicapai
Didalam pembelajaran itu harus mempunyai kegiatan yang terarah agar dapat mencapai tujuan dalam pembelajaran yang dipelajari dapat tercapai. Misalnya, belajar tentang matematika tentang perkalian tujuannya agar semua dapat menguasai pembelajran perkalian tersebut.
5. Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya
Dengan adanya pembelajaran yang dipelajari siswa di sekolah ia dapat mengaplikasikan pada lingkungan kehidupannya. Contohnya,siswa mempelajari aqidah akhlak tentang etika pergaulan dimasyarakat jadi dia bisa menerapakan pembelajaran tersebut dalam kehidupannya dikeluarga dan masyarakat.
6. Kontrol belajar (content control, pace control, display control, dan consciuous cognition control) memungkinkan belajar sesuai dengan irama masing-masing individu (prinsip perbedaan individual terlayani).
Maksudnya siswa itu bisa memanejemin waktu dalam belajar agar belajarnya itu dapat terlaksana sesuai dengan yang diharapkan.
7. Balikan informativ memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.
Seorang guru harus bisa memberikan informasi yang jelas kepada siswa dan juga bisa memberikan batasan-batasan /peringatan-peringatan/ perharian-perhatian yang jelas tantang materi yang hendak dicapai oleh siswa tersebut. Pada keunggulan ini diharapakan seorang guru bisa memahamkan pada anak tentang bproses belajarnya itu sehingga ia dapat mencapai hasil yang maksimal dari pada nilai belajar siswa itu baik tapi tidak memahami pelajaran yang diberikan tersebut.
Dengan demikian aplikasi teori sibernitik dalam kegiatan pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan baik diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran
Maksudnya dalam belajar itu harus mempunyai tujuan-tujuan agar ilmu-ilmu yang didapatkan siswa itu bermanfaat baik dari bidang akademik maupun kehidupannya.
2. Menentukan materi pembelajaran
Maksudnya pelajaran-pelajaran yang hendak diberikan pada siswa harus ditentukan materinya agar siswa itu mempunyai acuan dalam belajar.
3. Mengkaji system informasi yang terkandung dalam materi pelajaran
Maksudnya membahas kembali tentang pelajaran-pelajaran yang terkandung didalam materi pembelajarantersebut.
4. Menentukan pendekatan belajar yang sesuai dengan system informasi tersebut (apakah algoritmik atau heuristik).
Maksudnya menentukan cara/ solusi belajar yang sesuai dengan materi yang disampaikan. Algoritmik adalah proses yang berpikir yang sistematis, tahap demi tahap untuk menuju target tujuan belajar tersebut. Sedangkan heuristic adalah cara berpikir langsung ketarget untuk mencapai tujuan sekaligus.
5. Menyusun materi pelajaran dalam urutan yang sesuai dengan system informasinya.
Maksudnya menyusun materi pelajaran-pelajaran yang sesuai dengan materi yang dipelajari agar pelajaran yang di terima oleh siswa itu dapat diterima secara berkesinambungn, sistematis dan saling berkaitan.
6. Menyajikan materi dan membimbing siswa beajar dengan pola yang sesuai dengan urutan materi pelajaran.[11]
Maksudnya memberikan materi dan membimbing siswa belajar sesuai dengan urutan materi pelajaran.
BAB III
PENUTUP
Teori belajar sibernitik merupakan teori belajar yang paling baru. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan teknik informasi. Menurut teori sibernitik, belajar adalah pengolahan informasi.
Dalam rancangan pengolah informasi ada dua bidang yang penting secara khusus bagi belajar. Diantaranya ialah penyelidikan mengenai proses orang yang memperoleh dan mengingat informasi, dan penelitian mengenai siasat yang di pakai orang dalam memecahkan masalah.
Asumsi pokok yang mendasari teori –teori pengolah informasi ialah bahwa memori manusia itu terorganiser dan prosesor informasi yang aktif. Dalam rancangan pengolah informasi ada dua bidang yang penting secara khusus bagi belajar. Diantaranya ialah penyelidikan mengenai proses orang yang memperoleh dan mengingat informasi, dan penelitian mengenai siasat yang di pakai orang dalam memecahkan masalah.
Dengan demikian aplikasi teori sibernitik dalam kegiatan pembelajaran yang dikemukakan oleh Suciati dan Prasetya Irawan baik diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran
2. Menentukan materi pembelajaran
3. Mengkaji system informasi yang terkandung dalam materi pelajaran
4. Menentukan pendekatan belajar yang sesuai dengan system informasi tersebut (apakah algoritmik atau heuristik).
5. Menyusun materi pelajaran dalam urutan yang sesuai dengan system informasinya
6. Menyajikan materi dan membimbing siswa beajar dengan pola yang sesuai dengan urutan materi pelajaran.

DAFTAR PUSTAKA
Davies, Ivor K. 1986. Pengelolan Belajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Gagne, Robert M. 1974. Prinsip-Prinsip Belajar Untuk Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional.
Gredler, Margaret E. Bell. 1991.BelajardanMembelajarkan. Jakarta :Rajawalipers
IrawanSyarip,DodidanRosidin.2003.SistemManajemen Data danInformasi, Pendidikan.Jakarta: Daaprtemen Agama.
Ningsih, Asri Budi. 2005.BelajardanPembelajaran. Jakarta: PT. RinekaCipta.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 1989.Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru.


[1] Asri Budi Ningsih, Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), h. 81.
[2] Margaret E. Bell Gredler. Belajar dan Membelajarkan, (Jakarta : Rajawali pers, 1991) h. 238-266
[3] Robert M. Gagne, Prinsip-Prinsip Belajar Untuk Pengajaran, (Surabaya: Usaha Nasional, 1974) h. 29-31.
[4] Nana sudjana dan ahmad Rivai,Teknologi Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru, 1989), h. 63-64.
[5] Ivor K. Davies, Pengelolan Belajar, (Jakarta: Rajawali Pers, 1986), h. 196.
[6] Margaret E. Bell Gredler. Belajar dan Membelajarkan, (Jakarta : Rajawali pers, 1991) h. 238-266
[7] opcit, h. 80.
[9] Asri Budi Ningsih, Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), h.81-86.
[10] Dodi Irawan Syarip dan Rosidin, Sistem Manajemen Data dan Informasi, Pendidikan, (Jakarta: Daaprtemen Agama, 2003), h. 7.
[11] Asri Budi Ningsih, Belajar dan Pembelajaran, ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), h.87-93.

0 komentar:

Poskan Komentar